Eummh..tadi nih aku iseng buat cerita, entah kenapa tiba-tiba pengen aja. Ini tentang seorang cewek yang dibenci temannya gara-gara suatu konflik dan ingin kembali ke masa lalu agar bisa kembali berteman dengan semuanya. Dia mau minta maaf, sayangnya dia takut dan gengsi untuk mengatakannya. Salah satu sifat buruknya adalah keras kepala. Jangan kira ini pengalamanku ya, tapi kalo didatangi cowok macem Leo boleh juga tuh, hehe. ;-p
Masih pemula, harap dimaklumi ya m(_ _)m
~~~*
Aku berharap mempunyai mesin waktu. Jika ada, aku dapat memperbaiki yang lalu, kesalahan- kesalahan yang pernah kuperbuat. Aku tak mau seorang pun benci padaku. Egois memang, tapi semua orang pasti punya kekurangan makanya dia disebut manusia. Namun beda denganku. Kesalahanku sudah terlalu banyak! Tak tertulis, tak tertampung.. aku kasihan pada malaikat di bahu kiriku yang kecapaian jarinya. Doraemon..datanglah padaku!
+++
Aku duduk di pojok kelas karena mauku sendiri. Bukan maksudku menghindar dari tunjukan guru-well kuanggap itu bonus-tapi karena tempat ini menenangkan. Jauh dari keramaian. Gerombolan cewek di sana menggosip seru, tebakku pasti tentang anak baru yang akan menjadi anggota kelas kami. Cowok, dan ganteng. Kalau tidak mereka takkan sekeras itu berkikik. Aku tak peduli. Nantinya toh gosip akan membuat dia sama saja. Kembali aku melanjutkan coretanku yang tak berujung. Tepat di saat aku meliar..
“Anak-anak, kita kedatangan murid baru. Perkenalkan dirimu nak!”, kata Bu Guru sambil menoleh ke sosok tinggi di sampingnya. Anak cowok itu tersenyum lebar. “Yo semua! Aku Leonardo Will, kalian boleh juga memanggilku Leonardo Da Vinci..”
Di sela ini dia membuat semua tertawa. Kemudian ia melanjutkan biodatanya,“..euhm..aku dari pindahan SMP Stara. Hobiku menyelidiki hal yang misterius, jadi hati-hati bagi alien yang bersembunyi di kelas ini..aku akan menemukanmu! Yak, laporan selesai!”
Anak-anak langsung berkomentar ketika dia duduk, “Alien apaan?... Haha, anak yang lucu!..... Dia pandai bercanda ya?... Ada ada saja!”
Telingaku terasa panas. Aku melirik tajam padanya, tapi ternyata mata kami bertatapan. Selang dua kursi di samping kiri masih terhitung dekat rupanya. Leo mengangguk lalu nyengir. Aku membalasnya dengan senyum simpul, cepat-cepat mengalihkan pandangan ke mejaku yang penuh stipo.
Dia adalah tipe orang yang harus kuhindari..
+++
0 komentar:
Posting Komentar
monggo~